Wednesday, August 14, 2013

Berbuat Baik --> By ABU MARLO

Audzubillah himinasy syaiton nirrojiim. Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syetan yang terkutuk.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

BERBUAT BAIK

Captain America

Baru-baru saja film superhero Captain America beredar di bioskop-bioskop Indonesia. Sebagai pecinta superhero tentu saya tidak melewatkan untuk menonton film ini. Film Captain America menceritakan tentang seorang yang bernama Steve Rogers yang harus menelan kekecewaan karena tidak layak untuk bergabung dengan militer. Secara fisik tubuhnya yang pendek dan penyakit yang dimilikinya membuat dia tidak lulus ujian sebagai syarat mutlak menjadi seorang tentara. Setelah Steve Rogers tidak lulus dari tes tersebut, dia menerima tawaran untuk sebuah “mega project” dan akhirnya dia terpilih sebagai Captain America, kenapa dia terpilih ? Sangat sederhana, Steve Rogers adalah orang yang selalu berbuat baik.

Apa hikmah dari Captain America ?

Setelah menonton film ini saya jadi teringat tentang kisah para Nabi dan Rasul. Allah memilih utusan-utusanNya itu dengan persyaratan, bukan karena kekayaan, kegantengan, kekuasaan, kepintaran dan lain-lain, tetapi Allah memilih utusan-utusanNya untuk menjadi Nabi dan Rasul karena mereka adalah orang-orang yang berbuat baik. Sama halnya Captain America, dalam film itu ada beberapa kandidat untuk dijadikan Captain America namun tanpa diduga yang terpilih adalah seorang yang lemah fisiknya tetapi amal perbuatannya luar biasa, Steve Rogers terpilih karena perbuatan baiknya.
Mari kita simak ayat dibawah ini :

QS 6.84. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.


Jelas pada ayat ini bahwa para Nabi dan Rasul terpilih karena amal salehnya atau perbuatan baiknya.

Pertanyaannya, apakah kita harus berbuat baik ?

Jika kita menyadari bahwasannya Allah adalah maha segala-galanya. Kalau kita renungkan, apakah Allah membutuhkan iman kita ? Allah membutuhkan kekafiran kita ? Allah membutuhkan perbuatan baik kita ?

QS 4.170. Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah . Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

QS 39.7. Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain . Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu 

Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.
Dalam ayat-ayat diatas sudah jelas bahwa Allah tidak membutuhkan apapun dari kita, artinya kita mau beriman Allah tidak untung, kita mau kafirpun Allah tidak rugi.

Kenapa ?

QS 35.15. Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
Karena Allah adalah pemilik segala-galanya dan semua keputusan beriman atau kafir adalah murni pilihan kita. 

Hidup adalah pilihan yang penuh konsekuensi. 

Kalau kita analogikan, seandainya satu dunia ini semua kafir, tidak ada yang mau mebgikuti perintah-Nya apakah Allah menjadi kecil ? Tidak ! Seandainya satu dunia ini semua beramal saleh dan beriman, apakah Allah jadi semakin besar ? Tidak ! Karena sifat Allah adalah maha besar, maha segalanya tidak membutuhkan apapun dari siapapun.
 

Artinya : Siapa yang membutuhkan iman ? Kita ! Sesungguhnya kita berbuat baik untuk siapa ? Diri kita sendiri ! Sesungguhnya kita berbuat jahat untuk siapa ? Diri kita sendiri !

Terkadang kita melupakan hal ini, atau lebih sering kita menyepelekan hal ini. Padahal jelas apa yang disampaikan oleh Allah :

QS 45.15. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.


QS 17.15. Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

Pertanyaan berikutnya, jika Allah tidak membutuhkan perbuatan baik kita, jadi kepada siapa kita berbuat baik ?

QS 21.107. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

QS 28.77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Jelas Allah menyuruh kita untuk berbuat baik kepada semua orang tanpa terkecuali, dan kepada seluruh “asset-asset” Allah. Tidak ada pandang bulu untuk berbuat baik, tidak melihat status sosial, ras, golongan, agama atau apapun. Jadilah orang-orang yang memberikan kasih sayang kepada semesta alam, rahmatan lil alamin.

Dalam berbuat baikpun tentu harus ada aturannya, harus ada pedomannya dan harus sesuai dengan keinginan (ridha) Allah. Kembali kepada manual book kita untuk selalu dalam ridha Allah yaitu Al Qur’an, dimana masih banyak orang menyangka bahwa Al Qur’an adalah sebuah kitab sejarah dan hanya cerita-cerita lama saja, padahal :

QS 12.111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Pada kisah dan tulisan Al Qur’an jelas ada petunjuk untuk kita, dan jika kita meyakini kebearan isi Al Qur’an artinya kita harus meyakini bahwa masih ada orang yang sudah berbuat baik tetapi dia tetep menjadi penghuni neraka :

QS 35.37. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan  ? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.
Jelas dalam ayat ini bahwa ada orang yan berteriak didalam neraka dan memohon kepada Allah untuk dikeluarkan dari api neraka untuk mengerjakan perbuatan baik (amal saleh) yang lain. Artinya dia sudah mengerjakan perbuatan baik tapi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah, dia mengerjakan perbuatan baik sesuai dengan keinginan pribadinya.

Sebagai contoh :

Saya, Abu Marlo adalah warga kota Bandung daerah Geger Kalong. Saya menyumbangkan uang untuk membantu korban bencana yang ada di kota lain. Sepintas saya sudah merasa baik menyumbangkan uang kepada saudara-saudara yang ada di kota lain, tapi boleh jadi sekitar rumah saya masih ada yang kelaparan, masih ada yang membutuhkan bantuan tetapi saya menyumbangkannya ke tempat yang jauh yang ada diluar kota. Bagaimana ? Atau bahkan orang tua saya masih membutuhkan, bagaimana ?

Dalam berbuat baik pun Allah memiliki system management dan skala prioritas, jangan sampai kita melupakan ayat ini :

QS 4.36. Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri
Jelas sekali prioritas berbuat baik dalam ayat ini yang pertama adalah kepada orang tua, karib-kerabat dan seterusnya. Artinya kita jangan berbuat baik sesuai keinginan kita, tetapi harus tetap sesuai dengan keinginan Allah. Boleh jadi membantu saudara-saudara kita diluar kota adalah baik tetapi prioritaskan yang terdekat dahulu lalu ketempat yang lain.

Mari kita renungkan system barbuat baik menurut versi Allah ini, kenapa Allah menyuruh kita berbuat baik kepada orang-orang terdekat terlebih dahulu ? Mereka adalah orang-orang yang lebih sering berinteraksi dengan kita, sehari-hari orang-orang yang dekat itu kita temui artinya mereka adalah ladang-ladang dosa kita. Kita akan lebih sering membuat kesalahan kepada orang serumah, teman sekantor atau dalam lingkungan kita sendiri daripada kepada orang-orang yang jauh dari kita. Terutama kepada orang tua, Subhanallah… 

Begitu banyak dosa kita terhadap orang tua kita (detailnya silahkan buka di : http://bit.ly/ibuayah).

Mari kita sikapi dengan bijak perintah Allah ini, misalkan kita ingin membantu orang lain di kota lain, prioritaskan orang-orang terdekat baru orang-orang yang jauh, kita bisa membagi dan memilah-milah bantuan kita sesuai dengan kemampuan kita. Syukur-syukur semua dapat kita bantu dengan tujuan untuk mencari ridha Allah.

Sebagai contoh :

Ketika kita membangun rumah, kira-kira yang terganggu dengan proses pembangunan rumah kita tetangga jauh atau tetangga dekat ? Yang terkena debu dari proses itu kira-kira yang jauh atau yang dekat ? Tentulah tetangga dekat kita yang merasakan.
Sekali lagi marilah dengan bijak kita melakukan berbuat baik sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah.

Jadi, karena siapa kita berbuat baik ?

QS 28.85. Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali . Katakanlah: “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata”.

QS 24.1. (Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya.
Tentu karena Allah, karena kita ingin selalu menjadi hamba-hamba yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Berbuat baiklah untuk mencari ridha Allah.

Pertanyaan berikutnya, dengan apa kita berbuat baik ?
QS 3.115. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.

QS 2.215. Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

Allah menyatakan dalam firman-Nya, berbuat baik dengan apa saja yang kita miliki. Bisa berupa uang, tenaga, pikiran, waktu dan lain sebagainya.

Lalu, dimana kita berbuat baik ?

QS 2.148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Tentu dimana saja kita berada kita harus selalu berbuat baik.

Berikutnya, bagaimana berbuat baik yang diridhai Allah ?

QS 74.6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.

QS 76.9. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

QS 36.21. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik tanpa pamrih, tanpa berharap pembalasan dan dengan tulus ikhlas tanpa maksud apapun.
Apa balasan Allah kepada orang yang berbuat baik sesuai dengan kehendak-Nya ?

QS 12.22. Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Allah akan memberikan kita hikmah dan ilmu. Apa itu hikmah ?

QS 2.269. Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Orang-orang yang berbuat baik sesuai dengan kehendak Allah akan diberikan kefahaman yang mendalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah, selain itu :

QS 2.25. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya .
Tiada lain balasannya adalah surga dalam ridha Allah.

Berikutnya, kapan kita berbuat baik ?

QS 2.254. Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at . Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.

QS 63.10. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

Berbuat baiklah sebelum hari penyesalan tiba, sebelum datangnya kematian. 
Berbuat baiklah mulai detik ini.
Sesungguhnya ketika kita sedang berbuat baik, kita sedang beserta siapa ?

QS 29.69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

QS16.128. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

QS 3.148. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

QS 2.195. Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Jelas sekali ketika berbuat baik, sesungguhnya Allah sedang beserta kita. Jika kita berdoa itu baru mendekatkan diri kepada Allah tetapi jika ditambah dengan berbuat baik (action) maka Allah akan beserta kita dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Apakah perbuatan baik yang terbaik ? Puasa ? Haji ?

QS 3.92. Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Ternyata sedekah adalah perbuatan baik yang terbaik, kebajikan yang sempurna. Mari kita perbanyak sedekah agar kita selalu beserta Allah, agar Allah selalu meyukai kita, agar selalu mendapatkan hikmah dan ilmu.

Setelah kita mengetahui kebenaran-kebenaran tentang berbuat baik ini…

Apakah kita mau menunda berbuat baik ?

Maha benar Allah atas segala firman-Nya

  الحمد لله
Alhamdulillah

No comments:

Post a Comment