Di dalam Alquran, ada dua kata yang digunakan untuk makna puasa dari segi bahasa.
Pertama, “shiyam“; kutiba alaykumush shiyam.
Kedua, “shaum“; inni nazartu lirrahmanish shauma.
Shaum dan shiyam berasal dari akar kata yang sama, yaitu: menahan diri.
Sewaktu Maryam (Ibu Nabi Isa) melahirkan, orang-orang menuduhnya yang bukan-bukan. Lalu Maryam pun mengatakan:
“Inni nazartu lirrahmanish shauman fala tukallimay yauma insiya.”
Aku bernazar puasa (menahan diri), karena aku menahan diri, maka aku
menahan diri tidak mau berbicara kepada seorang manusia pun.
Tidak mudah seseorang menahan diri untuk membela dirinya ketika
dituduh macam-macam. Inilah puasa yang dimaksudkan oleh Alquran, yaitu
dengan kata “shaum”.
Yang diwajibkan kepada kita bukanlah “shaum”, melainkan “shiyam”. “Shiyam”
adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan
suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.
Jadi, “shaum” adalah menahan diri, sedangkan “shiyam”
adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan
suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.
Persamaan “shaum” dan “shiyam”, bahwa kedua-duanya
adalah menahan diri. Orang yang tidak menahan dirinya dalam hal-hal yang
tidak dibenarkan oleh agama, maka dinamakan bahwa orang tersebut tidak “shaum” dan tidak melakukan “shiyam”.
Ada orang yang berpuasa (tidak makan tidak minum) hanya bertujuan
untuk menguruskan badan. Dalam puasa yang kita lakukan, bukan hal-hal
seperti ini yang akan kita capai.
Ada orang yang berpuasa (dalam arti tidak makan saja). Ini juga “shaum”, tapi bukan “shiyam”.
Ada orang yang berpuasa dengan tujuan untuk berbela sungkawa.
Para ulama mengatakan, bahwa sebenarnya dalam konteks “shiyam”,
ada penampakan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya
yang tidak bisa makan. Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa puasa yang
kita lakukan adalah untuk menampakkan bela sungkawa kepada orang-orang
yang tidak berpunya, tapi ini bukanlah esensi dari puasa yang dilakukan
tersebut.
Esensi shiyam
Mengapa Allah memerintahkan kita untuk berpuasa? Memang, pada ayat yang memerintahkan puasa disebutkan: “la allakum tattaqun”
(agar kamu bertakwa). Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa tujuan puasa
itu adalah agar kita bertakwa. Tetapi itu di ujung sana. Ada jalan yang
harus ditempuh oleh yang berpuasa agar bisa sampai ke sana.
Kata takwa mencakup segala macam kebajikan. Ilmu itu takwa, sabar itu
takwa (bagian dari takwa). Ada yang mengatakan, bahwa puasa yang kita
lakukan adalah untuk menenun pakaian takwa. Lebaran nanti, barulah
pakaian takwa tersebut kita kenakan. “Wa libasut taqwa zalika khair”.
Sebutlah apa saja dari kebaikan, maka itu termasuk ke dalam “takwa”.
Jadi, kalau kita mengatakan “takwa”, maka segala macam kebaikan ada di
dalamnya. Takwa adalah istilah yang digunakan oleh Alquran untuk
menggambarkan “dima ul khair” (himpunan dari segala macam kebaikan).
Jika Alquran mengatakan, bahwa ”diwajibkan kepada kamu berpuasa
supaya kamu bertakwa,” maksudnya adalah supaya terhimpun dalam dirimu
segala macam kebajikan. Jadi jelaslah, bahwa puasa bukanlah cuma menahan
diri (sabar) untuk tidak makan dan tidak minum.
Ada hadits Rasulullah yang cukup terkenal, hadits ini merupakan sabda
Rasulullah yang merupakan firman Allah, yang firman Allah tersebut
tidak termaktub di dalam Alquran, tetapi disampaikan oleh Malaikat
Jibril kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menyusun kata-katanya.
Kalau Alquran merupakan firman Allah yang disampaikan oleh Malaikat
Jibril yang redaksinya langsung dari Allah. Kalau ini, ada yang
dikatakan oleh Rasullah, ada yang dikatakan oleh Jibril.
Rasulullah bersabda, Allah berfirman:
“Ash-shaumuli wa ana azzibi.”
Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan memberi ganjaran-Nya.
Jadi untuk ibadah puasa, malaikat hanya mencatat, tanpa melakukan
kalkulasi berapa ganjaran yang didapatkan. Bandingkan dengan membaca
Alquran, kalau kita membacanya terbata-bata, maka setiap huruf 10
pahalanya. Kalau kita membacanya lancar, maka 20 pahalanya. Kalau kita
mengerti artinya, maka 70 pahalanya.
Ada ulama yang mengatakan, bahwa sebenarnya lebih baik membaca
Alquran itu satu juz saja tetapi kita mengerti artinya, daripada membaca
30 juz tetapi tidak mengerti artinya.
Allah mengatakan, bahwa puasa itu untuk-Nya, Dia lah yang akan memberinya pahala.
Ada orang yang berpuasa cuma menahan diri dari makan, minum, dan
hubungan suami istri. Ada juga yang berpuasa menahan diri dari makan,
minum, hubungan suami istri, dan menahan diri untuk tidak memaki orang
lain. Ada juga yang berpuasa tidak makan, minum, hubungan suami istri,
tidak memaki orang lain, dan dia belajar, membersihkan hatinya, serta
tidak dengki.
Jadi, yang tahu hati itu hanyalah Allah. Karena itulah, tidak bisa
lantas digeneralisir. “Akulah yang akan memberi pahalanya,” kata Allah.
Para ulama memahami sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah ini
dengan mengatakan: “Karena puasa itu adalah rahasia antara yang berpuasa
dengan Allah, maka itu sebabnya Allah berfirman: puasa untuk-Ku.”
Ada juga yang mengatakan, bahwa esensi (tujuan akhir) dari puasa
adalah takwa. Dia untuk Allah, yang kemudian ditafsirkan, bahwa untuk
Allah yang dimaksud itu adalah rahasia.
Pendapat yang lebih baik mengatakan, untuk Allah maksudnya adalah
untuk meneladani Allah. Orang yang berpuasa itu, dengan puasanya, dia
meneladani Allah sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk.
Kebutuhan apa yang paling mutlak harus kita miliki?
Ada kebutuhan yang sangat mutlak kita miliki, yang kita tidak bisa
sama sekali jika tidak memperolehnya. Hal ini adalah udara. Allah
mengatakan, bahwa ini adalah di luar kemampuan manusia.
Allah tidak membutuhkan apa-apa, termasuk tidak membutuhkan udara.
Sesudah udara, yang kita butuhkan adalah makan dan minum. Apakah Allah
makan dan minum? Ternyata Allah tidak makan dan minum. Karena itulah,
teladanilah Allah, yaitu jangan makan dan minum.
Tetapi, kita tidak bisa mencontohi Allah dalam sifat-sifat-Nya ini.
Contohilah sesuai dengan kemampuan kita. Karena itulah, Allah kemudian
mengatur, bahwa menurut penilaian Allah, yang mampu dilakukan oleh
manusia adalah dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Ini adalah
normal
Seandainya ada seorang manusia yang tidak bisa melakukannya, di Alquran disebutkan:
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di
antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada
hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat
menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu):
memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati
mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [Q.S. Al-Baqarah: 184]
Orang yang bisa puasa tetapi sangat berat untuk berpuasa, maka orang
tersebut janganlah berpuasa. Orang yang seperti ini, berarti ia tidak
mampu memenuhinya, Karena itulah, orang seperti ini membayar “fidyah” saja.
Allah itu tidak makan, dan Allah memberi makan. Karena itulah, jika
berpuasa, contohilah Allah, berilah makan kepada orang lain, berilah
makan berbuka puasa kepada orang lain, sesuai dengan kemampuan kita.
Ternyata bukan hanya ini.
Allah “ar-rahman”, apakah kita bisa bersikap “ar-rahman” kepada orang lain? Allah “ar-rahim”, apakah kita bisa bersikap “ar-rahim” kepada orang lain?
“Rahman” adalah memberi rahmat kepada seluruh makhluk, baik
itu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh makhluk Tuhan,
termasuk juga merahmati orang-orang kafir.
“Rahim”, yaitu memberi rahmat kepada orang-orang yang beriman.
“Malik”, yaitu raja (penguasa). Kita bukan raja, bukan
penguasa, tetapi apakah kita tidak bisa menjadi raja, apakah kita tidak
bisa menjadi penguasa? Bisa. Kita menjadi raja terhadap diri kita. Kita
mempunyai tentara, anggota tubuh kita ini adalah tentara kita. Kita
mempunyai alat yang bisa digunakan untuk meraih keinginan dan nafsu
kita. Jadi rajalah terhadap diri kita.
Jadi, raja adalah orang yang bisa menguasai dirinya.
“Quddus” artinya suci. Suci adalah gabungan dari tiga hal:
benar, baik, dan indah. Kalau cuma benar, tapi tidak baik, maka itu
bukanlah suci. Misalkan, jika ada satu orang melakukan kesalahan, maka
orang tersebut perlu dibenarkan. Jika orang tersebut kita tegur di depan
umum, maka apa yang kita lakukan itu benar, tetapi tidak baik. Jika
kita tegur dia sendirian (tidak di depan orang banyak), tetapi cara kita
menegurnya tidak indah, karena dengan cara memaki-maki dan kasar.
Allah itu “quddus”, suci, semua yang datang dari-Nya itu benar, baik, dan indah.
Yang mencari kebenaran itu menghasilkan ilmu. Yang mencari kebaikan
itu menghasilkan akhlak. Yang mencari keindahan itu menghasilkan seni.
Karena itulah, bagi orang yang berpuasa jika meneladani al-quddus, maka bisa menjadi ilmuwan, budiman, dan seniman.
“‘Alim”, artinya maha mengetahui. Karena itulah, jadikanlah
waktu puasa ini untuk belajar. Salah satu buktinya, Alquran itu turun
pertama kali pada Bulan Ramadhan dengan ayatnya “iqra’” (bacalah/belajarlah).
Membaca Alquran pada Bulan Ramadhan memang merupakan suatu amal
ibadah yang baik, tapi jangan hanya sekedar dibaca, melainkan
dipelajari. Dan bukan cuma Alquran, kita juga bisa mempelajari yang
lainnya. Dan kita juga tidak harus dari pagi hingga sore hanya membaca
Alquran. Ternyata ada hal-hal lain yang juga harus dan bisa kita
pelajari. Bagi ibu-ibu, mungkin bisa belajar masak, merias, merangkai
bunga, dan membuat kerajinan tangan. Semua itu ilmu. Jangan membatasi
kebaikan hanya pada persoalan-persoalan yang kita anggap itu persoalan
agama murni. Bacalah koran dan majalah yang baik. Nonton televisi yang
acaranya baik-baik.
“Ghaniy”, artinya kaya. Kaya adalah tidak butuh kepada sesuatu. Allah dinamakan “ghaniy“, karena Allah tidak membutuhkan sesuatu.
“Tahsabuhum aghniyaa-a minat ta’affuf. ”
Orang yang tidak mau meminta-minta, bukan berarti dia tidak butuh.
Dia sebenarnya butuh, tetapi karena harga dirinya begitu tinggi,
sehingga dia tidak mau meminta-minta.
Semakin sedikit kebutuhan kita, maka semakin kayalah kita. Karena
itulah, orang yang mempunyai kelebihan, maka ia harus mencari siapa yang
tidak memiliki kelebihan. Karena boleh jadi, yang tidak butuh ini malu
untuk meminta.
Selain “ghaniy”, ada juga “mughniy”. “Mughniy”
artinya memberi kekayaan. Allah itu kaya, juga memberi kekayaan. Karena
itulah, kita patut meneladani Allah yang kaya dan juga memberi
kekayaan.
Kekayaan itu seperti lingkaran (360 derajat). Kalau kecil
lingkarannya, maka besarnya adalah 360 derajat. Kalau lingkarannya
besar, maka besarnya 360 derajat juga. Kalau besar, tapi tidak sampai
lingkarannya, maka bukanlah 360 derajat.
Banyak orang yang lingkarannya sudah begitu besar, tetapi lingkaran
tersebut tidak sampai 360 derajat, maka ini bukanlah orang kaya.
Sebaliknya, ada juga orang yang penghasilannya kecil, tetapi ia puas
dengan usaha maksimalnya, maka inilah orang kaya.
Ambillah semua sifat-sifat Allah ini, pelajari esensinya. Bagus
sekali jika kita membaca Asmaul Husna, tetapi tujuannya jangan hanya
sekedar membaca, tetapi memahami dan meneladani sifat-sifat Allah
tersebut.
Di beberapa negara Timur Tengah, yang ditonjolkan adalah sifat “karim“,
yang artinya baik. Misalkan surat. Bagaimanakah surat yang baik? Yaitu
surat yang isinya baik, kata-katanya baik, sampulnya baik, dan alamatnya
pun baik dan benar.
Di sini, yang jadi “karim” itu adalah semua yang baik apa yang ia sifati. Allah itu “karim”.
Tentunya kita tidak bisa membayangkan, bahwa Allah itu memberi sebelum
kita meminta. Allah itu kecewa jika kita tidak meminta. Apakah ada di
antara kita yang kecewa bila tidak dimintai sesuatu kepada kita?
Allah “karim”, maka teladanilah itu. Pada Asmaul Husna,
itulah esensi ataupun jalan yang mengantar seseorang yang berpuasa
sampai kepada takwa.
Rasulullah suatu ketika pada akhir Jum’at terakhir Sya’ban, beliau berkhutbah Jum’at.
“Wahai jama’ah, Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Ada empat
hal yang hendaknya kamu raih di Bulan Ramadhan: dua hal yang menjadikan
Tuhan ridha kepadamu, dan dua hal yang menjadikan Allah senang kepadamu,
yaitu: pertama, syahadat “laa ilaa ha illallah”. Kedua, memohon ampun kepada-Nya.”
Sebagai Umat Islam, seringkali kita memahami petunjuk Rasulullah
ataupun petunjuk Alquran itu hanya teks saja. Kita tidak masuk ke
substansinya. Karena itulah, dalam tradisi para tetua, khususnya
menjelang berbuka puasa, biasanya membaca doa, yang bunyinya:
“Asyhaduan laa ilaa ha illallah, astaghfirullah, nas alukal jannah, wa na’uzu bika minannaar.”
Ini sebenarnya adalah hadits Rasulullah.
Perbanyaklah bacaan seperti ini, tetapi bukan hanya sekedar bacaan (ucapan), melainkan hayatilah maknanya.
Tidak ada Tuhan selain Allah, berarti tidak ada penguasa di alam raya
ini kecuali Allah. Seandainya berkumpul semua makhluk untuk memberi
kita manfaat, maka takkan bisa manfaat itu menyentuh kita, kecuali
seizin Allah. Tak ada yang bisa memberi pengaruh terhadap sesuatu,
kecuali Dia (Allah).
Syahadat kita sering disentuh oleh debu, karena itu perlu dibersihkan dari debu-debu tersebut. Rasulullah bersabda:
“Jaddidu imaanakum sa’atan fa sa’ah.”
Perbaharui imanmu dari saat ke saat.
“Wa kaifa nujaddid?”
Bagaimana kami memperbaharui iman kami?
“Aksiru min qauli laa ilaa ha illallah.”
Perbanyak mengucapkan laa ilaa ha illallah.
Begitu banyaknya sikap kita yang kadang meluruhkan “laa ilaa ha illallah. ” Misalkan jika ada yang mempercayai bahwa angka 13 adalah angka sial, mempercayai ramalan bintang, dan yang semacamnya.
Suatu ketika di Hudaybiyah, setelah Shalat Shubuh, Rasulullah duduk-duduk, lalu beliau berkata:
“Hari ini ada yang percaya Tuhan tidak percaya bintang, ada yang
percaya bintang tidak percaya Tuhan. Yaitu yang beranggapan bahwa
bintang tertentu itu bisa memberikan keuntungan.”
Hal seperti ini ada di benak kita, dalan hidup keseharian kita.
Yang paling disenangi Allah di Bulan Ramadhan adalah syahadat “laa ilaa ha illallah”. Tujuannya adalah bertakwa kepada Allah.
Tidak ada orang yang tidak mempunyai dosa. Maka di sinilah tempatnya
untuk bertaubat. Kalau kita melakukan itu, maka Allah senang kepada
kita.
Apa yang merugikan kita jika kita tidak mendapatkannya di Bulan Ramadhan?
“Laa ghinaa ankum an huma, tas aluuna ul jannah, wa tasta-iluna-u minannaar.”
Di bulan inilah tempatnya kita meminta surga, dan di bulan ini pula tempatnya kita meminta dijauhkan dari neraka.
Ada sebuah hadits yang mengatakan, bahwa di Bulan Ramadhan ini, pintu
surga dibuka, pintu neraka tertutup. Banyak penafsirannya, tetapi kita
ambil yang mudah saja.
Kalau kita di rumah, ada tamu mau datang, maka pintu rumah kita buka
sebelum dia datang ataukah setelah ia datang, baru pintu rumah kita
buka? Jawabannya, sebelum tamu itu datang, pintu rumah sudah kita buka,
supaya tamu tersebut tak perlu mengetuk pintu rumah kita dan menunggu di
luar.
Tapi kalau orang jahat mau masuk penjara, apakah pintu penjara tersebut sudah dibuka atau belum?
Mengenai hal ini, terdapat pada Surah Az-Zumar ayat 71-74:
{71} Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam
berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu
dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka
penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di
antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan
kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah
datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap
orang-orang yang kafir.
{72} Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka
Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam
itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.
{73} Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke
dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai
ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada
mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu,
berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di
dalamnya”.
{74} Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah
memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat
ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana
saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi
orang-orang yang beramal.
Kalau penghuni surga dikatakan “wa futhihat“, kalau penghuni neraka tidak memakai “wa“. Mengapa yang pertama ada “wa“, sedangkan yang kedua tidak?
Pada ayat tersebut ingin digambarkan, bahwa penghuni surga itu kalau
diantar masuk ke surga, dia dapati pintu surga sudah terbuka. Kalau
penghuni neraka, nanti ketika sampai di sana, barulah pintunya dibuka.
Setelah penghuni neraka itu masuk, pintunya ditutup lagi.
Di Bulan Ramadhan ini, pintu surga terbuka, sehingga kita tidak perlu
mengetuk dan kita bisa langsung masuk. Jangan ketuk pintu neraka,
karena itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang jahat.
Kalau waktu terbuka (pintu surga), lalu kita tidak masuk, maka
rugilah kita. Kalau waktu tertutup (pintu neraka) kita ketuk, maka
rugilah kita. Ini lagi obral, maka carilah banyak-banyak. Carilah amal
yang baik, berbobot, harganya murah. Inilah waktunya.
Yang masuk surga, maka pasti terhindar dari neraka. Orang yang masuk
neraka pasti terhindar dari surga. Karena di akhirat hanya ada dua
tempat, yaitu surga dan neraka.
“Man yuhyiha anin-naar wa uqtilal jannah faqad faaza.”
Siapa yang disingkirkan (walaupun sedikit) dari neraka, maka dia beruntung, karena dia masuk surga.
Pertanyaannya, mengapa Rasulullah mengajarkan kita untuk memohon surga dan berlindung dari neraka?
Ada yang mengatakan, bahwa doa itu diulang-ulang, karena merupakan
suatu perbuatan yang baik. Dalam hal ini, berarti kita mendesak Allah.
Allah itu tidak seperti manusia. Manusia jika didesak, maka akan marah.
Sedangkan Allah, kalau tidak kita desak, maka Dia akan marah.
Janganlah ketika kita berdoa dengan mengatakan, “Ya Allah, jika
Engkau berkenan”, melainkan mintalah dengan cara merengek dan mendesak
Allah, karena inilah yang Dia sukai. Ulang-ulangilah doa itu. Di sini,
permintaan untuk dimasukkan ke surga itu sebenarnya diulangi, namun
redaksinya saja yang diubah, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga,
jauhkanlah aku dari neraka.”
Apakah ada yang masuk neraka dulu, setelah itu barulah masuk surga?
Rasulullah mengatakan, “Siapa yang akhir hidupnya ucapannya adalah laa ilaa ha illallah, maka dia akan masuk ke surga. Tetapi jika dia berdosa, maka dicuci dulu di neraka.”
Doa itu seakan-akan berkata, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga
tanpa melalui neraka.” Konsekwensinya, berkenaan dengan konteks
Ramadhan, maka janganlah lakukan perbuatan yang bisa mengantar kita ke
neraka, karena Allah sudah menutup pintu neraka dan membuka pintu surga.
Begitu kita jalan, maka ada persimpangan jalan: ada jalan yang ke kiri
dan ada jalan yang ke kanan. Jalan yang ke kiri kalau di luar Bulan
Ramadhan maka pintunya terbuka, dan jalan yang ke kanan pintunya juga
terbuka, sehingga kita bebas untuk memilih antara kedua jalan tersebut.
Jalan yang ke kiri ada lampu merah sebagai tanda untuk kita tidak menuju
ke jalan tersebut. Sudah ada penghalang seperti itu, tapi kita masih
juga menuju ke jalan tersebut, mengapa kita tidak menuju kepada jalan
yang kanan. Jika seperti ini, tentunya Allah akan begitu murka kepada
kita.
Takwa itu bukan hanya shalat. Jika ada yang berhalangan (misalkan
bagi perempuan) sehingga tidak bisa beribadah puasa, shalat, dan membaca
Alquran, ternyata banyak amal baik yang bisa dilakukan yang mungkin
lebih baik dari shalat dan puasa sunnah. Bagi seorang perempuan yang
berhalangan, itu bukanlah keinginan kita, melainkan adalah kehendak
Allah. Apakah ada amalan yang bisa dilakukan sebagai pengganti dari
shalat, puasa, dan membaca Alquran? Ternyata banyak sekali penggantinya.
Bacalah buku yang bermanfaat, membantu orang, senyum, sedekah, yang itu
semua adalah bagian dari makna “takwa” yang merupakan arah yang dituju oleh puasa. Itulah esensinya.
Rasulullah bersabda:
“Qammin shaa-imin laysalahu min shiyamihi illal ju’u wal ‘athas.”
Banyak orang yang puasa, tetapi tidak mencapai esensinya, melainkan hanya lapar dan haus.
Dari segi hukum ia mungkin berpuasa, tetapi bukan itu yang
dimaksudkan oleh Allah. Maksud dari puasa adalah kendalikan diri, hiasi
diri. Itulah esensi dari puasa.
No comments:
Post a Comment