Seringkali hati ini merasa sesak akan takdir
Allah (qadarullah) yang berlaku, merasa benci dengan adanya takdir dan
ketetapanNya. Banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan
ditanggapi dengan sikap cengeng dan tidak sabar. Pada situasi ini tidak
jarang muncul sikap berkeluh kesah dan mengeluh. Sebaliknya, seringkali
sesuatu hal yang kita nantikan dan inginkan, terjadi lebih baik dari
perkiraan seperti sebuah surprise. Namun pada situasi kedua ini,
manusia jarang bersyukur dan asyik ber-euphoria larut dalam kesenangan.
Allah gambarkan dalam Al Quran mengenai sifat-sifat manusia ini:
إن الإنسان خلق هلوعا…
Sungguh manusia itu diciptakan bersifat berkeluh kesah..
إذا مسه الشر جزوعا…
إذا مسه الشر جزوعا…
Jika ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah…
وإذا مسه الخير منوعا…
Namun apabila ia mendapat kebaikan ia menjadi amat kikir…(Al-Ma’arij)
فأما الإنسان إذا مابتله ربه فأكرمه و نعمه فيقول ربي أكرمن…
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.”
وأما إذا ما بتله فقدر عليه رزقه فيقول ربي أهانن…
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” (Al-Fajr)
Adanya kesusahan, kesenangan, kesempitan,
kelapangan adalah bagian dari cobaan hidup yang akan mendewasakan.
Bentuk batasan-batasan Allah (Qadarullah), adalah wujud kasih sayangnya
kepada manusia. Jika dibayangkan, apa yang terjadi bila kita diberi
kesenangan dan fasilitas terus menerus, apa yang akan terjadi? Yang
terjadi adalah kekerdilan mental dan hilanglah nilai-nilai perjuangan.
Manusia secara berangsur-angsur tidak akan mengenal apa itu nikmat dan
kebahagiaan, karena nikmat dunia bersifat fana dan temporer, sedangkan
nafsu manusia tidak ada batasannya. Jangankan akan menghasilkan
peradaban yang maju, malah akan terlahir mesin-mesin pembangkit hawa
nafsu terbesar.
Sebaliknya, apa yang terjadi jika atau
seandainya Allah terus memberikan kesusahan dan kesempitan tanpa ada
setitik keni’matan? Yang terjadi adalah putus asa, kehidupan sudah tamat
sejak dulu. Ketahuilah sesuangguhnya proporsi ni’mat itu lebih banyak
daripada kesusahan. Kesenangan akan selalu ada dalam kesempitan. Allah
selalu tempatkan kemudahan dalam kesulitan, dan tidak pernah Allah
letakkan kesulitan dalam kesenangan. Allah lah yang menarik ulur- atur
sedemikian rupa sehingga manusia tetap dalam asas perjuangan dan hasil
manfaat hidup. Semua masih dalam koridor kemampuan manusia, baik dalam
mengatasi masalah maupun dalam berproses menjadi semakin dewasa.
Allah berfirman dengan indah dalam Al-Quran:
فإن مع العسريسرا…
Dan sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan..
إن مع العسر يسرا…
Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan..
وإلى ربك فارغب…
Dan hanya kepada Tuhanmu lah selayaknya kamu berharap.. (Al Insyiroh)
Fokus menentukan tiap gerak manusia. Jika
berbicara Qadarullah (Management of Allah), artinya tidak bisa lepas
dari hal-hal yang harus dilakukan dengan serius dan menjadi tujuan, dan
mana yang selain itu. Saat ini, manusia salah dalam berfokus. Banyak
melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, dan tidak melakukan
sesuatu yang sewajibnya ia kerjakan..! Ini bagian penting karena
berpengaruh sangat nyata terhadap feel kita dalam tarik-ulur
batasan-batasan Allah sebagaimana keterangan di atas.
Manusia banyak berfokus kepada 2 hal dari 3
hal yang telah ditetapkan dan lalai terhadap 3 hal yang belum pasti
ketetapan dirinya atas itu. 3 hal yang telah ditetapkannya atas
dirimanusia sebelum penciptaannya adalah tentang: 1. Rizki selama di
atas dunia (mencakup seluruh fasilitas hidup). 2. Jodoh. 3. Kematian.
Sedangkan 3 hal yang belum ditetapkan atas diri manusia dan manusia
cenderung lalai dalam mengusahakannya adalah: (1) Iman, (2) Amal Shalih,
(3) Usaha saling mengingatkan/menasehatkan (Da’wah).
Dan satu hal, kemudahan itu mutlak hadir
ketika kita sampai pada satu titik penghambaan, pengharapan, tawakkal
hanya kepada Allah. Laa ilaha illlah, tiada lain tempat bersandar selain
Allah, inilah yang Allah kehendaki dari seorang hamba. Merasa menghamba
dan terus ingat kepada-Nya, sehingga Allah kan berikan karunia dan
kemuliaan yang tak terhingga kepada hamba itu. Allah berfirman yang
artinya: Tidaklah Aku menciptakan Manusia dan Jin kecuali guna menghamba kepada-Ku.
Fokus kepada usaha atas meningkatkan iman
menjadikan ‘goal target’ terlihat jelas, fokus terhadap amal shalih
adalah hiasan dan adat seorang mukmin, fokus kepada da’wah akan
mewujudkan segalanya. Wallahualam
No comments:
Post a Comment